Didorongnya perempuan memenuhi kuota 30 persen di legislatif dinilai Maria Magdalena Lili untuk memperbaiki kondisi politik di negeri ini. “Kalau jauh panggang dari api, lantaran kesadaran politik perempuan masih belum maksimal,” kata legislator Partai Golkar di DPRD Ketapang ini.
Keinginan Lili adalah perempuan mampu memperjuangkan nasib dan kepentingannya sendiri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Perempuan harusnya memilih memperjuangkan sesama perempuan. Tapi yang terjadi perempuan lebih senang memperjuangkan laki-laki,” kata Lili kepada Rakyat Kalbar, kemarin.
Jika kondisi ini terus-terusan terjadi, ia menduga ke depan kondisi keterlibatan perempuan dalam politik tak akan jauh berbeda bahkan mundur dari tahun-tahun sebelumnya. “Biarpun punya uang dan pengaruh, kalau kesadaran politiknya tidak ada tetap akan kalah bersaing dengan kaum Adam,” terangnya.
Karena itu, mulai sekarang perempuan harus berbenah. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah membangun kesadaran arti politik di kalangan perempuan itu sendiri. Dimulai dari aktif di organisasi-organisasi, tak hanya partai politik, tapi juga di luar itu. “Perempuan juga harus mengikuti perkembangan,” tambahnya.
Maria merasa perempuan dalam politik sangat penting. Ia melihat contoh ketika mengambil kebijakan-kebijakan terkait perempuan di legislatif. Peran perempuan sangat membantu. “Seperti anggaran untuk kesehatan perempuan, itu selalu dibicarakan. Kami juga tetap memperjuangkan itu,” akunya.
Ditanya apakah SDM perempuan saat ini masih kurang, Lili membantahnya. Saat ini tidak kurang perempuan yang pintar, bahkan melebihi laki-laki. Kurangnya adalah ketertarikan terhadap politik. Ini terkadang diperparah dengan kondisi internal partai politik.
“Terkadang partai politik hanya menempatkan perempuan ke jajaran caleg sebatas pelengkap penderita. Kadang yang berpotensi dalam partai ketika melibatkan diri juga tidak diperhitungkan. Budaya patriarki di partai masih kental. Partai politik yang tak mengakomodasi perempuan berarti belum dewasa,” tegasnya.
Karena itu ia mengajak seluruh perempuan untuk turut serta berpartisipasi dalam politik. Ruang lingkup perempuan tak hanya sebatas dapur, sumur, kasur. Pada pileg 2014 nanti, peluang perempuan dan laki-laki relatif sama.
“Tinggal bagaimana menempatkan dirinya. Saya harap ibu-ibu harus kompak mendukung perempuan yang bisa diandalkan. Kalau kompak, jumlah perempuan bisa bertambah di legislatif. Bukan hanya legislatif, bisa jadi perempuan ikut pemilihan bupati, gubernur, ataupun presiden,” tegas Lili. (KiA)

