Pontianak – Sidak alias inspeksi mendadak gabungan Pemprov Kalbar di sejumlah pasar tradisional dan modern di Kota Pontianak menemukan 3 kg hati sapi yang terserang penyakit Fasciola hepatica atau cacing hati di Pasar Flamboyan, Selasa (14/8).
“Hari ini kita turun di enam titik pasar tradisional di Kota Pontianak. Siangnya kita lanjutkan ke pasar modern seperti Hypermart dan Fresh Mart. Untuk di Pasar Flamboyan sudah dites semua. Kita menemukan hati sapi yang terkena Fasciola hepatica atau cacing hati,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf Mustafa kepada wartawan, kemarin.
Tim gabungan yang turun terdiri dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pontianak, Badan Ketahanan Pangan dan Hortikultura, Dinas Perikanan dan Kelautan, Satpol PP, dan Disperindag.
Komoditas yang diperiksa meliputi ikan, buah-buahan, sayuran, daging dan bahan pokok lainnya. Sidak menjelang Lebaran tahun ini memang ada kesepakatan dikoordinasi oleh Badan Ketahanan Pangan Kalbar.
Tim turun serempak ke Pasar Flamboyan, Pasar Puring, Pasar Teratai dan Mawar, Pasar Kemuning dan Pasar Parit Besar. Pemeriksaan termasuk ikan apakah mengandung formalin. “Hati sapi yang terkena Fasciola hepatica atau cacing hati sudah kita sita dan tidak layak untuk dikonsumsi,” papar Manaf.
Masyarakat sudah mulai sadar termasuk pedagang juga tidak menjual barang sembarangan. “Semoga di tahun akan datang tidak ditemukan lagi. Hanya fasilitas saja yang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga telur masih normal kisaran dari Rp 1.100 per butir hingga Rp 1.300. “Artinya masih di bawah standar yang kita sepakati. Daging sapi ada yang jual Rp 78 ribu per kilogram dan ada juga Rp 80 ribu kilogram. Kalau ada pedagang yang jual dengan harga tinggi sanksinya masyarakat tak usah dibeli,” pungkasnya.
Jadi, mekanisme pasar ini tidak bisa dicampuri. Tetapi pemerintah hanya menjamin supaya stok di pasaran cukup.
Di tempat yang sama, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kalbar Budi Setiawan mengatakan sidak bahan makanan pangan untuk melindungi konsumen dari bahan makanan berbahaya.
“Kita sudah ambil sampel di enam pasar tradisional. Kita didukung oleh BPOM untuk pelaksanaan tes di tempat. Supaya tahu apakah mengandung formalin atau tidak. Yang ditemukan hanya hati yang terserang cacing,” jelasnya.
Salah satu toko yang diperiksa adalah Toko Aheng yang ditemukan beberapa barang kedaluwarsa dan kemasannya penyok. Di antaranya adalah beberapa kaleng susu yang kemasannya sudah penyok dan tidak lagi layak dikonsumsi. Petugas juga memeriksa timbangan yang dipakai oleh pedagang apakah sudah standar atau belum.
Pedagang sembako, Ango, mengaitkan barang yang kedaluwarsa dan kemasannya penyok tidak lagi dijual. “Kita tidak jual barang yang rusak. Hanya saja belum sempat diperiksa. Pembeli juga tidak mau itu. Barang yang sudah rusak dan tidak layak konsumsi akan kita kembalikan ke agen,” pungkasnya. (kie)
