Keponakan Gus Dur Tutup Festival Imlek dan Capgome 2013

Muhaimin Iskandar menutup Festival Imlek dan Capgome Kota Singkawang 2013
Mordiadi

Keponakan Bapak Pluralisme Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Menakertrans) RI Muhaimin Iskandar didaulat menutup secara resmi Festival Imlek dan Capgome Kota Singkawang 2013.

“Setiap memperingati perayaan Imlek dan Capgome, saya selalu ingat dengan orang tua kita, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mantan Presiden keempat RI,” kata Muhaimin Iskandar dalam sambutannya ketika Penutupan Festival Imlek dan Capgomeh Kota Singkawang 2013 di Stadion Kridasana, Sabtu (23/2) malam.

Muhaimin ingat akan Gus Dur, karena Gus Dur-lah yang merintis penghapusan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. “Sejak Gus Dur, Indonesia menjadi luar biasa, hidup tanpa diskriminasi, hidup dalam Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya,” katanya disambut aplaus warga yang memadati Stadion Kridasana Singkawang.

Sudah diakui secara luas, Gus Dur merupakan Presiden RI yang pertama kali memperjuangkan kewarganegaraan kelompok keturunan Tionghoa di Indonesia. Sehingga etnis Tionghoa setara dengan etnis-etnis lainnya di Indonesia dalam hak dan kewajibannya.

Tentunya masih segar dalam ingatan masyarakat bagaimana Gus Dur berjuang membela etnis Tionghoa pada masa-masa sulit ketika awal Reformasi 1998. Beberapa saat setelah Tragedi Mei 1998, Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU menyerukan kepada warga keturunan di luar negeri untuk kembali ke Indonesia dan menjamin keselamatan mereka.

Perjuangan Gus Dur membela minoritas Tionghoa semakin tegas ketika menjadi Presiden keempat RI yang diwujudkannya melalui berbagai kebijakan. Di antaranya penghapusan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang kemudian dilanjutkan oleh Megawati dengan penetapan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002.

Etnis Tionghoa dalam wawasan kebangsaan Gus Dur adalah sama dengan suku bangsa lainnya, seperti Jawa, Batak, Papua, Arab, India, Jepang, dan Eropa yang sudah lama hidup dan menjadi penduduk atau warga negara Indonesia. Mereka juga memiliki hak yang sama sebagai warga negara yang sah sebagaimana diamanatkan UUD 1945.

Atas perjuangan Gus Dur menghapuskan diskriminasi di Indonesia itu, Muhaimin mengajak seluruh warga untuk menjaga dan mengelola apa yang telah diperjuangkan Gus Dur, agar Indonesia maju, damai, dan sejahtera. “Hari ini seluruh dunia telah menyaksikan, Indonesia penuh dengan kebersamaan dan persatuan, kaya akan budaya. Mari tanamkan nilai spirit kehidupan penuh damai dan sejahtera,” ajak Muhaimin.

Selain itu, Muhaimin kembali menyampaikan harapannya kepada Walikota Singkawang Awang Ishak agar membangun Monumen Gus Dur. “Saya usulkan kepada Walikota untuk membangun Monumen Gus Dur di Kota Singkawang ini, karena Singkawang memang layak untuk itu,” katanya.

Menurut dia, apabila Monumen Gus Dur telah dibangun di Kota Singkawang, niscaya akan menjadikan Singkawang dan Kalbar lebih banyak dikunjungi para wisatawan. “Saya harap semuanya mendukung pembangunan Monumen Gus Dur di Singkawang ini,” katanya.

Setelah menyampaikan sambutannya, Muhaimin menutup secara resmi Festival Imlek dan Capgome Kota Singkawang 2013 didampingi Walikota Singkawang Awang Ishak dan Ketua Panitia Pui Sudarto. Penutupan tersebut ditandai dengan pemukulan beduk oleh Muhaimin.

Kendati secara resmi sudah ditutup, beberapa rangkaian kegiatan penutupan Festival Imlek dan Capgome Singkawang 2013 masih dilanjutkan hingga tengah malam. Di antaranya menampilkan peserta Miss Shanghai 2013 di hadapan ribuan warga yang memadati Stadion Kridasana.

Penampilan seluruh peserta Miss Shanghai 2013 di Stadion Kridasana itu melengkapi kemeriahan dalam penutupan festival tahun ini. Sebelum penampilan dara-dara berbusana cantik itu, warga Singkawang juga dihibur dengan berbagai grup tari dan artis.

Dalam acara penutupan Festival Imlek dan Capgome Kota Singkawang 2013 itu juga menghadirkan artis papan atas Indonesia, Queen Mahadewi, yang menyanyikan beberapa hits-nya, bahkan dia juga menyanyikan lagu Mandarin.

Walikota Singkawang Awang Ishak dalam sambutannya pada acara penutupan itu menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut menyukseskan Festival Imlek dan Capgome sejak 10 Februari lalu. “Terima kasih saya sampaikan yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Singkawang yang tetap menjaga Singkawang tetap aman, damai, dan nyaman,” katanya. (dik)