Meliau. Dua orang pedagang kelontong keliling, Muslimin alias Dodo alias Kodok, 35, dan Bobby, 25, keduanya asal Jawa Barat tewas mengenaskan, Minggu (6/3) sekitar pukul 12.00. Puluhan warga dari beberapa dusun di Desa Baru Lombak menghakimi dua korban tersebut.
Muslimin dan Bobby dihabisi dengan cara sadis di rumah pasangan suami istri Widariyanto, 50, dan Ngatinem, 45, tepat di pertigaan wilayah Jalan Poros PT BHD, Baru Lombak dengan Nek Raong. Salah satu korban sempat ditembak menggunakan senapan lantak oleh massa.
Usai dibunuh hingga leher putus dan perut dibelah hingga usus terburai, jasadnya langsung dimasukkan ke dalam mobil Carry milik korban yang biasa digunakan berdagang keliling. Kemudian didorong sekitar 500 meter dari tempat kejadian perkara (TKP) awal. Warga kemudian membakar mobil berikut kedua jasad korban itu di tepi sungai.
Jasad kedua korban itu, langsung dibawa menggunakan kendaraan ke Puskesmas Meliau untuk divisum. Kemudian diserahkan ke pihak keluarga kedua korban. Dari salah satu korban yang tersisa hanya sebuah SIM Card handphone. Dari barang itulah petugas menghubungi salah seorang kerabatnya. Sekarang dalam perjalanan menuju Meliau.
Sekitar pukul 15.00, petugas Reskrim Polres Sanggau dibantu Reskrim Polda Kalbar di-backup pasukan Brimob langsung melakukan penyisiran di rumah-rumah para pelaku.
Tak pelak, warga di wilayah tersebut terlihat ketakutan, khususnya ibu-ibu dan anak. Hingga pukul 15.30 kemarin, petugas sudah berhasil mengamankan 4 orang diduga mengetahui kejadian itu. Dua di antaranya mantan kepala dusun di wilayah setempat.
Informasi yang dihimpun di tempat kejadian perkara (TKP), kedua korban bukan orang baru bagi warga setempat. Sebab keduanya sering menjajakan dagangan di wilayah tersebut.
Sehari sebelum hari nahas itu, tepatnya Sabtu (5/3) sekitar pukul 16.00, kedua korban mampir di rumah Widariyanto. Kebetulan Bobby, tidak enak badan dengan maksud untuk menumpang beristirahat. Namun keesokan harinya, maut pun menjemput kedua perantauan itu secara tak wajar.
Waktu kejadian, yang ada di rumah tersebut hanya Ngatinem istri Widariyanto. Hingga kini, ia masih shock tak bisa diajak berbicara. Tak jelas, siapa yang mengoordinasi, tahu-tahu puluhan warga dari berbagai arah datang.
Mereka mendatangi Bobby yang sedang terbaring dalam kamar. Lantas langsung menombak, korban hanya bisa pasrah, terlebih lagi dalam kondisi sakit.
Lain halnya dengan Muslimin, ia sempat mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun, sia-sia warga yang telanjur marah, menembaknya dengan senapan. Ia sempat pasrah dan meminta ampun. Namun tak membuat warga menjadi kasihan. Tersiar kabar, korban sempat tidak mempan ditembak. Namun, pukulan membabi buta di tubuhnya dengan berbagai peralatan akhirnya membuat korban tak berdaya.
Tak tahan melihat perlakuan tersebut, Ngatinem sempat mengamankan diri di rumah tetangganya Suparmin yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. Sekarang Ngatinem diungsikan di rumah Mantri Nico.
Suparmin,53, salah seorang warga setempat, sempat melihat puluhan warga mendorong mobil Carry, milik kedua korban. Hanya saja, ia tak berani mendekat. Soalnya ia takut ikut menjadi korban. Mobil tersebut didorong dengan seorang mengarahkan stir. “Saya melihat, tapi tak berani mendekat. Kita takut juga menjadi korban dan sasaran. Mereka mendorong ada satu orang yang mengarahkan stir sambit teriak-teriak,” ujar dia.
Bukan hanya mobil dan kedua korban yang dibakar, tetapi juga barang dagangan berupa kelontong.
Kapolda Kalbar, Brigjen Sukrawardi Dahlan langsung ke tempat kejadian. “Ini murni tindak pidana kriminal. Tidak ada kaitannya dengan SMS tersebut. Kedua korban ini kan bukan orang baru bagi warga di wilayah ini,” kata Kapolda ketika berada di TKP, kemarin.
Kapolda datang pukul 09.30 kemarin menggunakan helicopter didampingi Ketua Harian DAD Kalbar Yakobus Kumis. Ia meneruskan perjalanan selama 2 jam menuju TKP di Dusun Nek Raong melewati jalan perkebunan kelapa sawit dengan pengawalan ketat dua peleton pasukan Brimob dan anggota Dalmas Polres Sanggau.
Sesampainya di TKP, Kapolda langsung memberikan pengarahan kepada anggotanya agar segera menangkap pelaku, yang nama-nama telah dikantongi petugas. “Anggota lakukan penyisiran, terhadap nama-nama yang sudah dikantongi. Jangan sampai lepas,” tegasnya.
Sementara, Yakobus Kumis didampingi Panglima Langgan Jantan dan Bernadus tokoh masyarakat Meliau melaksanakan sosialisasi dan imbauan. Ia meminta warga setempat yang mengetahui dan menjadi pelaku pada aksi sadis itu untuk segera menyerahkan diri.
Suasana di berbagai dusun yang berada di wilayah Desa baru Lombak itu mencekam. Aktivitas penduduk seakan lumpuh total. Warga banyak terlihat duduk-duduk di depan teras rumah sederhana, dengan tatapan mata curiga, melihat kendaraan yang melintas.
Tak lama berselang Kapolres Sanggau AKBP I Wayan Sugiri SIk ikut bergabung dengan Kapolda. Sedianya ia masih cuti karena sedang merayakan Nyepi di Bali.
Tepat pukul 1.00. Kapolda dan Yakobus Kumis melaksanakan pertemuan dengan warga di aula koperasi setempat. “Kita imbau warga siapa yang mengetahui atau ikut dalam aksi itu, untuk menyerahkan diri. Kita jamin keselamatannya. Bagaimana pun, tindakan melawan hukum ada sanksinya,” tegas Kapolda.
Menurut Yakobus, beredarnya SMS tersebut merupakan salah satu upaya orang tertentu untuk mengacaukan keamanan di Kalbar. “Saya selaku pengurus DAD Kalbar, meminta warga Dayak agar jangan mudah terhasut isu itu. Isu tersebut tidak benar, laksanakan aktivitas seperti biasa,” pintanya.
Usai digelarnya pertemuan itu, petugas berhasil mengamankan seorang pria yang mengetahui kejadian tersebut. “Hari ini (kemarin) saya minta, pelaku sudah berhasil ditangkap semua. Tinggal kita melaksanakan pengembangan penyidikan lagi,” pintanya.
Hingga tadi malam, polisi sudah mengamankan 31 orang yang dibawa ke Mapolres Sanggau. Barang bukti yang turut diamankan adalah 21 senjata tajam, 1 unit senapan lantak, dan 1 tombak. (sry)
