Sanggau. Jangan anggap remeh jika Anda demam disertai pilek. Bisa jadi bukan hanya influenza tetapi diserang bakteri difteri yang dengan cepat menular. Di Sanggau, seorang siswi Taman Kanak-kanak (TK) usia lima tahun, T, dirujuk ke RS Santo Antonius Pontianak.
“Kita telah mengambil suap atau sampel liur bagian atas mulut anak ini dan dikirim ke Kemenkes di Jakarta. Kita tinggal menunggu bagaimana hasilnya sekarang,” ujar Drg Roy Naibaho, Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2KL) Dinas Kesehatan Sanggau kepada Equator, Senin (14/3).
Menurut Roy, langkah antisipasi agar tak terjadi penularan yang meluas telah dilakukan dengan memberikan Erythromycin sebagai imunisasi untuk memutus mata rantainya kepada 450 anak dan dewasa di lingkungan tempat bocah tersebut tinggal. “Anak tersebut imunisasinya lengkap. Tetapi bisa jadi antibody yang belum terbentuk,” ujar Roy.
Penyakit yang diakibatkan Cornyebacterium diphtheria ini memiliki gejala antara lain demam, suhu tubuh meningkat sampai 38,9 derajat Celcius, batuk dan pilek yang ringan, sakit dan pembengkakan pada tenggorokan, mual, muntah, sakit kepala, adanya pembentukan selaput di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan dan leher kaku.
Setelah masa inkubasi 2-4 hari, kuman membentuk racun atau toksin yang mengakibatkan timbulnya panas dan sakit tenggorokan. Kemudian membentuk selaput putih di tenggorokan yang menimbulkan gagal napas, kerusakan jantung dan saraf. Difteri akan berlanjut pada kerusakan kelenjar limfe, selaput putih mata, vagina, komplikasi lain kerusakan otot jantung dan ginjal.
Pengobatan difteri harus segera dirawat di rumah sakit karena sangat cepat menular sehingga penderitanya perlu diisolasi. Istirahat total di tempat tidur diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih parah. Untuk penderita yang sarafnya terganggu dapat mengakibatkan lumpuh dan harus melalui physiotherapy. Bagi penderita napasnya tersumbat memerlukan pembuatan lubang pada batang tenggorokan.
Kasi P2 Dinkes Sanggau, HM Saleh memaparkan, kejadian difteri baru pertama kalinya di Sanggau. Jika ada temuan satu kasus saja mengenai Difteri, sudah dapat dikatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). “Ini penyakit tergolong berbahaya, lagian ini baru pertama kalinya di Sanggau. Sebetulnya jika ada satu (temuan, red) saja. Ini bisa dikatakan sudah masuk kategori KLB,” yakinnya.
Selanjutnya, tegas Saleh, pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan pihak rumah sakit dalam penyediaan data temuan difteri. Ia berharap kepada masyarakat, jika terdapat temuan kasus serupa, maka segera laporkan hal itu ke Dinkes Sanggau, agar segera mendapatkan tindakan. “Sosialisasi sudah kita laksanakan. Harapan kita segera melapor jika ada temuan. Masyarakat harus tetap menjaga pola hidup bersih di lingkungan masing-masing,” imbaunya.
Tingkat keparahan penyakit ini, kata dia, dibagi menjadi 3 fase yakni infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan. Kemudian infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring. Kemudian infeksi berat bila terjadi sumbatan napas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).
“Penderita difteri umumnya diberikan antibiotika, steroid, dan ADS (Anti Diphteria Serum, red),” ujar HM Saleh.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Sanggau, Salipus Sali dimintai komentarnya mengatakan, karena penyakit ini termasuk kategori berbahaya dan mematikan, Pemkab melalui Dinas terkaitnya harus melakukan langkah-langkah antisipatif agar tidak bertambah banyak penyebarannya.
“Bisa saja Dinas Kesehatan melakukan relokasi sekolah dan tempat tinggal pasien. Pemkab diharapkan segera berkomunikasi intensif dengan dinas terkait dalam mengatasi persoalan ini,” ujar dia. (sry)
