Ramadan, Man Jadda Wajadda

Ramadan bulan paling agung di antara seribu bulan. Banyak istilah nama, ada yang menyebut Ramadan bulan ibadah, bulan berbuat baik, bulan kebaikan, bulan simpati, sampai bulan tebar pesona. Tetapi kali ini saya memberi istilah baru yaitu Ramadan bulan man jadda wajadda. Maknanya, barang siapa yang bersungguh-sungguh dia akan dapat.

Mengapa saya katakan sebagai bulan man jadda wajadda? Karena di bulan ini begitu banyak orang yang saling berlomba. Mulai dari berlomba berbuat kebaikan yang mengharapkan pahala dari Allah, sampai berlomba-lomba dalam mencari perhatian manusia.

Hari-hari biasanya selain Ramadan masjid pada kosong. Kalaupun ada, hanya orang yang itu-itu saja. Yang azan itu, yang iqomat itu, bahkan yang menjadi imam juga itu. Jadi, lu lagi, lu lagi.

Sangat kontras dengan suasana Ramadan. Masjid-masjid pada makmur dipadati umat muslim yang mengerjakan salat, membaca Alquran, sampai beriktikaf. Dan juga tidak sedikit orang berlomba melakukan kebaikan supaya mendapatkan pujian.

Kata mutiara Arab ini, man jadda wajadda, memang luar biasa dan tanpa makna. Sudah banyak yang berhasil terbukti yang mengamalkan pepatah ini. Sampai-sampai kata mutiara ini dijadikan pesan utama dalam novel lima negeri menara.

Kalau bulan ini orang bersungguh-sungguh untuk berbuat kebaikan tidak masalah. Bahkan itu yang sangat dianjurkan. Hanya saja jangan sampai bulan suci yang penuh berkah ini digunakan sebagai bulan untuk bersungguh-sungguh dalam tebar pesona. Atau ringkasnya bulan untuk mencari muka.

Mungkin kita pernah mendengar istilah politik cari muka. Ramadan ini sangat rawan sekali dengan agenda-agenda politik cari muka tebar pesona. Mengapa demikian? Karena politik ini sangat mudah untuk dikemas dengan agenda keagamaan.

Ada yang mengatakan hal itu sah-sah saja. Selama tujuannya baik dan bisa dinikmati oleh rakyat. Misalnya safari Ramadan, buka puasa bersama, tarawih keliling, dan lain sebagainya. Biasanya di akhirnya ditutup dengan pemberian sumbangan dan bingkisan.

Kita memang tidak boleh menjustifikasi atau menuduh bahwa orang yang berbuat baik itu ada maksud tertentu. Tetapi hanya sekadar mengingatkan jangan sampai bulan yang penuh keberkahan ini dijadikan ajang tebar pesona atau ajang mencari muka. Memanfaatkan masjid untuk kegiatan atau dakwah politik yang melukai agama. Bahkan berpecah belah dalam masjid juga bisa karena politik yang punya tujuan kepentingan tertentu, bukan tujuan menyembah Allah.

Bagaimanapun suatu saat akan tampak wajah aslinya. Apalagi di Kalbar ini akan menghadapi pilgub. Sekecil apa pun yang berbau pencitraan mudah sekali untuk dicurigai. Kita juga tidak ingin akan muncul tokoh-tokoh pemimpin yang munafik, memanfaatkan masjid untuk kepentingan politik praktis.

Semoga saja, bulan yang penuh rahmat ini benar-benar kita jadikan sebagai bulan untuk saling bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan. Bersungguh-sungguh dalam menggapai rida Allah. Tidak saling mencurigai apalagi berburuk sangka akibat berpolitik. Hal semacam itu hanya akan merusak kesempurnaan ibadah puasa yang kita lakukan. Wallahu’alam.