Seorang nenek kalang kabut. Di tengah tiupan angin kencang dia mengejar syal halusnya yang terlepas melayang dari lehernya. Tubuh bungkuk si nenek menyulitkannya meraih syal itu. Semua gerak dan tingkah si nenek tak lepas dari pengamatan seorang pemuda yang merasa tersentuh.
Si pemuda pun beranjak berjingkat-jingkat dan melompat mengejar syal. Berkali-kali upaya itu dilakukannya, keringat pun telah bercucuran, tetapi syal itu belum juga teraih. Karena bersungguh-sungguh, akhirnya syal berhasil digapainya. Dengan gembira dia pun menghampiri si nenek dan menyerahkan syal itu seraya tersenyum. Malangnya, setelah menerima syal itu si nenek malah cemberut dan segera berpaling meninggalkan si pemuda.
Cukup lama pemuda itu tertegun. Upayanya yang keras untuk mendapatkan syal si nenek malah tidak dianggap sama sekali. Keringatnya yang bercucuran bahkan tidak dihargai sama sekali walaupun sekadar ucapan terima kasih dari si nenek. Si pemuda sempat berpikir, dosa apa yang diperbuatnya selama ini atau apa kesalahannya kepada si nenek. Sehingga kerja kerasnya yang telah membuahkan hasil pun sama sekali tidak dihargai.
Tapi sudahlah, si pemuda belajar satu hal yakni keikhlasan dalam menolong atau berbuat kebaikan. Bahwa dia tidak serta-merta mendapatkan balasan atas kebaikannya dalam bentuk hasrat mendapatkan senyuman dan ucapan terima kasih dari si nenek.
Dongeng yang diceritakan turun temurun dari orang tua kepada anak-anaknya adalah cerminan. Dari kisah tadi, dapat diambil pelajaran bagi orang-orang yang telah banyak berbuat kebaikan. Tidak terkecuali pada pasangan calon Walikota dan calon Wakil Walikota Singkawang.
Pasangan calon yang akan bertarung dalam Pilwako Singkawang 20 September mendatang tentunya telah banyak melakukan berbagai kebaikan kepada masyarakat. Mungkin sudah sering kali memberikan bantuan kepada warga, baik berupa uang tunai, sembako, pengobatan gratis, dan fasilitas lainnya. Semua itu boleh jadi sangat membantu masyarakat, apalagi buat mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Tetapi, ketika pencoblosan kelak, belum tentu masyarakat yang telah ditolong itu memilihnya. Bila itu yang terjadi, tidak jarang mereka yang telah memberi bantuan menarik kembali bantuannya itu.
Namun bagi pasangan calon yang punya sifat ikhlas di hatinya saat memberikan bantuan kepada masyarakat, tentunya lebih siap untuk tidak dipilih oleh masyarakat yang dibantunya. Mereka inilah yang sanggup melawan hasratnya untuk dipilih masyarakat.
