Apakah coba meraup suara terbanyak melalui kedekatan etnis merupakan kesalahan? Sepertinya tidak. Sah-sah saja jika banyak politikus kita mengedepankan politik identitas. Sistem politik kita memang “menawarkan” identitas menjadi jualan dalam kampanye. Melirik Pilgub Kalbar 2012 dan pemilu 2014, jualan jati diri telah terdengar di sana sini. Jadi ajang tebar pesona, angkat keunggulan diri ke konstituen. Seperti orang narsis, mematut diri di depan cermin politik agar para pemilih membelalakkan mata dan jadi tergoda layaknya magnet.
Semestinya, tiap pemimpin bisa membawa sesuatu yang baru ketika mengemban tugas berat menjalankan pemerintahan atau mewakili rakyat. Sudah seharusnya begitu, karena tanpa kemajuan hanya akan ada kemandekan dan akhirnya kerusakan. Tapi kemajuan hanya demi kemajuan itu sendiri tidaklah dianjurkan, karena tradisi kita yang sudah teruji sering kali tak mudah dicampurtangani. Keseimbangan, antara lama dan baru, antara permanen dan perubahan, antara tradisi dan inovasi, seharusnya ada di masyarakat kita.
So, membawa-bawa identitas itu sah. Asal tidak menjelek-jelekkan, mengolok-olok apalagi menghina jati diri lain. Pengertian santun pun sebenarnya mesti ditelaah lagi. Santun dan jujur jauh bedanya. Perubahan itu untuk kebaikan. Sementara perubahan lain pada waktunya akan disadari sebagai kekeliruan. Perubahan di khalayak kita mulai terlihat. Mereka mulai mampu membedakan santun dengan jujur. Tak ada gunanya kita berbohong kalau tiap manusia selalu punya hasrat dan ambisi untuk mematut dirinya di depan cermin.
Jati diri yang hadir di sekeliling kita merupakan sebuah deretan yang sewajarnya dipahami sebagai keberagaman. Keberagaman untuk menambah wawasan dan keunikan budaya. Perbedaan adalah kemajemukan yang unik dan bukanlah sebuah bahaya bagi tatanan kebangsaan kita.
Beberapa peristiwa kerusuhan antaretnis di dunia, barangkali sebuah cermin tentang narsisisme identitas yang berlebihan. Semestinya kita bisa hidup dengan mengetatkan batas ukur identitas, yang titik beratnya pada toleransi terhadap identitas masing-masing. Dan mudah-mudahan pula kita tidak terjerumus dalam pengotakan identitas dan politik segregasi yang berlebihan. Yang kalah tidak boleh menghujat yang menang, yang menang tak boleh melecehkan apalagi menghina yang kalah. Teringat kata George Bush yang diumpat secara konyol, “You are either with us or against us”.
